Batir Ngopi .... Kesenian Ebeg Purbalingga
Kesenian sebagai warisan budaya perlu dirawat dan dijaga kelestariannya. Sebagai bangsa yang besar tentu melestarikan produk budaya merupakan salah satu tolak ukur bangsa yang beradab.
Pemerintah baik level pusat sampai daerah perlu hadir dalam rangka itu. Karena saat ini ketika kran komunikasi dibuka dan didekatkan sedekat dekatnya kepada masyarakat berefek pada potensi ditinggalkannya produk budaya yang bersifat rumit dan "kurang efektif" untuk memenuhi kebutuhan hiburan.
Hal itu merupakan tantangan sekaligus peluang yang perlu direspon secara tepat.
Program program kebudayaan yang berkelanjutan dan sistematis perlu dirancang dengan baik. Karena sudah barang tentu berkaitan dengan efek output dan outcome yang ingin dihasilkan dari pelaksanaan program.
Beberapa hari yang lalu salah satu program pelestarian budaya digelar di Kabupaten Purbalingga. Bertajuk Kongres Ebeg sekilas terlihat unik dan bombastis.
Dalam gambaran saya dari program itu ada semacam dorongan dari bawah untuk mengingatkan pemerintah kabupaten agar lebih peduli dengan pelestarian budaya. Program semacam pembinaan kualitas pelaku seni dan konsep ekspose kepada dunia tentang kepemilikan kesenian ebeg Kabupaten Purbalingga dirancang secara maksimal.
Atau semisal ada jaminan perlindungan kesehatan dan beasiswa pendidikan bagi pelaku seni oleh pemerintah daerah. Mengingat tidak jarang pelaku seni ebeg masih menjadi salah satu penyumbang angka kemiskinan di kabupaten itu.
Namun jauh api dari panggang. Harapan dan gambaran saya tidak terjawab satu pun. Malah kalo boleh menilai ajang bombastis itu merupakan bentuk pemanfaatan semata. Yang entah oleh siapa dan kepentingan apa.
Kata si mbah dukun ebeg "ora nandur, ora ngunduh, melu nggaya."
Al Fakir
Kesenian sebagai warisan budaya perlu dirawat dan dijaga kelestariannya. Sebagai bangsa yang besar tentu melestarikan produk budaya merupakan salah satu tolak ukur bangsa yang beradab.
Pemerintah baik level pusat sampai daerah perlu hadir dalam rangka itu. Karena saat ini ketika kran komunikasi dibuka dan didekatkan sedekat dekatnya kepada masyarakat berefek pada potensi ditinggalkannya produk budaya yang bersifat rumit dan "kurang efektif" untuk memenuhi kebutuhan hiburan.
Hal itu merupakan tantangan sekaligus peluang yang perlu direspon secara tepat.
Program program kebudayaan yang berkelanjutan dan sistematis perlu dirancang dengan baik. Karena sudah barang tentu berkaitan dengan efek output dan outcome yang ingin dihasilkan dari pelaksanaan program.
Beberapa hari yang lalu salah satu program pelestarian budaya digelar di Kabupaten Purbalingga. Bertajuk Kongres Ebeg sekilas terlihat unik dan bombastis.
Dalam gambaran saya dari program itu ada semacam dorongan dari bawah untuk mengingatkan pemerintah kabupaten agar lebih peduli dengan pelestarian budaya. Program semacam pembinaan kualitas pelaku seni dan konsep ekspose kepada dunia tentang kepemilikan kesenian ebeg Kabupaten Purbalingga dirancang secara maksimal.
Atau semisal ada jaminan perlindungan kesehatan dan beasiswa pendidikan bagi pelaku seni oleh pemerintah daerah. Mengingat tidak jarang pelaku seni ebeg masih menjadi salah satu penyumbang angka kemiskinan di kabupaten itu.
Namun jauh api dari panggang. Harapan dan gambaran saya tidak terjawab satu pun. Malah kalo boleh menilai ajang bombastis itu merupakan bentuk pemanfaatan semata. Yang entah oleh siapa dan kepentingan apa.
Kata si mbah dukun ebeg "ora nandur, ora ngunduh, melu nggaya."
Al Fakir
Comments
Post a Comment